Siang itu aku berlari dengan sekuat tenaga, aku berharap masih ada sedikit kesempatan untukku bisa bertemu lagi dengannya. Dia adalah Bintang, kekasih yang sangat aku sayangi selama ini. 3 tahun kami menjalani hubungan dari kelas 1 SMA sampai sekarang.
Aku tak tahu kenapa dia harus pergi, setiap aku inginkan sebuah alasan dari keputusannya ini dia selalu bungkam dan tak mengatakan sepatah katapun, setiap aku hubungi melalui ponsel tak pernah diresponnya Tentu saja ini sangat menyakitkan, kau tau aku benar-benar menyayanginya, aku sungguh tidak mau dia pergi dari kehidupanku. Setidaknya jika ia ingin melanjutkan pendidikan di Universitas yang tempatnya jauh akupun masih bisa untuk melanjutkan kisah walau dengan jarak yang menyulitkan.
Di dalam perasaanku yang kacau aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih, sampai akhirnya saat aku ingat dengan sebuah buku yang Bintang hadiahkan kepadaku atas kelulusanku saat itu. Aku merasa ada yang aneh terhadap buku tersebut. Benar saja buku ini sama sekali bukan buku kesukaanku, aku sama sekali tidak suka dengan buku tentang kisah percintaan dan Bintang paling tahu soal itu. Kenapa? Apa maksud sebenarnya dari Bintang? Pertanyaan tersebut selalu menghantuiku.
Karena rasa penasaran yang sangat kuat akhirnya aku mulai menguak apa sebenarnya maksud dari pemberian buku ini. Semalaman aku menghabiskan waktu membaca buku pemberian Bintang dengan judul "Jalan Terbaik". Aku benar-benar dibawa larut oleh kisah yang tertulis di buku ini. Sampai tak sadar aku sudah tiba dihalaman terakhir. Yang ada dalam pikiranku semua kisah yang aku baca dibuku ini benar-benar mirip denganku namun jelas ini dibuat dari sudut pandang sang perempuan.
Aku masih belum bisa mengerti tentang maksud Bintang memberikan buku ini. Aku justru semakin penasaran kenapa semua latar, waktu dan alur cerita dalam buku ini semuanya hampir mirip dengan kisahku bersama Bintang. Walaupun ada yang sangat bertolak belakang dimana dibuku diceritakan bahwa si perempuan telah menjalin hubungan dengan pria lain dengan kata lain selingkuh. Oh, Jelas ini Bukan kisah kami, Bintang yang ku kenal adalah perempuan cuek yang memiliki kesetiaan sangat tinggi terhadapku, dia loyal dengan hubungan indah yang kami jalin selama ini.
Kemudian setelah aku selesai membaca semua isi buku dan belum juga kutemukan jawaban akupun menutupnya dan sekilas kulihat nama pengarang dari buku ini. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa disana terpampang dengan jelas walaupun dengan ukuran agak kecil namun aku masih bisa membacanya " The Real Story Oleh Penulis : Bintang Indah Sari".
Hey apa-apaan ini, ini pasti bercanda. Dasar pengarang buku yang tidak punya nama kreatif. Bisanya hanya menjiplak nama orang lain haha... Tentu saja Bintang tidak akan seperti apa yang tertulis dibuku sialan ini.
Aku masih berpikir positif sampai sebuah note kecil terselip di cover sampul buku ini. Seketika aku hancur lemas dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Di note itu tertulis kalimat "Jika kamu telah membacanya, berhentilah mencintaiku dan lupakan aku, sekarang kamu tahu aku bukan orang yang tepat berada disampingmu selamanya. Selamat tinggal"
Kemudian tanpa pikir panjang pagi aku langsung berlari menuju rumah Bintang untuk mendengar langsung penjelasannya. Namun tak ada seorangpun dirumah itu dan aku mencoba bertanya kepada tetangga disamping rumahnya, dan mereka bilang semalam Bintang diantar oleh orangtuanya telah berangkat ke stasiun untuk pergi menuju kota dimana dia akan melanjutkan pendidikannya.
Aku masih terus berlari sekuat tenaga berharap bertemu dengannya sebentar saja. Tak peduli dia selingkuh atau apapun aku masih menyayanginya, dia adalah Bintang yang selalu aku kagumi pribadinya dan Bintang yang selalu menjadi semangatku mengejar impianku. Aku tidak mau dia pergi begitu saja, adalah tugas seorang lelaki untuk memaafkan semua kebohongan wanita.
Sampai tibalah aku di stasiun kereta api, setelah aku mencarinya dan bertanya kesana-kemari akhirnya Terimakasih Tuhan dia belum menaiki keretanya. Aku melihatnya duduk diruang tunggu, tetapi tunggu, siapa orang yang berada disampingnya? Tentu itu bukan ayahnya karena dia terlihat masih muda. Ah siapa peduli, akupun menghampirinya.
"Hey Bintang" aku memanggilnya dengan sedikit tersenyum agar dia tahu bahwa tak ada masalah denganku atas kebohongan yang dilakukannya. Tetapi dia hanya melihatku sesaat dan kemudian mengacuhkanku. Aku yang tak tahu kenapa karena tidak biasanya dia begitu, aku pun mendekatinya dan mencoba berbicara dengan menatap matanya.
"Bintang, kamu tidak perlu khawatir... Aku benar-benar baik-baik saja dan tak ada masalah dengan yang telah kamu lakukan, kalau kamu ingin pergi ke kota lain dan takut menjalani hubungan jarak jauh aku bisa menyusulmu kapanpun kamu inginkan, ayolah kita anggap semuanya tidak pernah terjadi apa-apa, ok"
Dan yang terjadi dia masih tetap bungkam dan hanya meneteskan air mata. Melihat hal tersebut pria yang disampingnya pun bereaksi dengan mendorongku.
"Hei bro, apa yang kamu lakukan dengan kekasihku!" gertak pria tersebut.
"Kekasih? Apa maksudmu! Bintang ini pacarku!"
"Sudah cukup!!!" tiba-tiba Bintang yang sedari tadi diam pun membentak kami yang hampir saja melakukan perkelahian di tempat umum.
"Sebaiknya kamu pulang saja, hubungan kita sudah berakhir dan tidak mungkin kita bisa bersama lagi, aku sudah tidak punya rasa apapun kepadamu. Jadi pulanglah, biarkan aku pergi" teriak Bintang terhadapku.
Saat bersamaan kereta mulai bergerak dan waktu pemberangkatan telah tiba. Aku masih terdiam dengan tatapan kosong. Masih terdengar jelas ucapan Bintang barusan didalam kepalaku. Aku masih tidak percaya apa yang barusan terjadi. Saat kusadari dia telah menaiki keretanya dan segera berangkat, aku masih belum bisa merelakannya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku mohon Tuhan hentikan kereta itu dan biarkan Bintang turun. Aku masih ingin berbicara dengannya. Pintaku dalam hati. Namun memang sudah terlambat. Bintang pergi dengan kekasihnya meninggalkan aku disini.
Ya Tuhan, jadi seperti ini balasan untuk kasih sayang tulus yang telah aku berikan kepadanya? Baiklah! aku bersumpah, Jika memang ini jalan yang terbaik, demi Tuhan suatu saat nanti disaat orang yang dia pilih tersebut tak lebih baik dariku, meski dia datang lagi dan memohon aku tak akan pernah mau melihat wajahnya lagi.
< THE END >

EmoticonEmoticon