Tuesday, 3 May 2016

Hanya Kecelakaan

Tags
Aku baru saja mendapatkan Surat Izin Mengemudiku beberapa hari yang lalu dan seperti semua remaja lain seusiaku, aku merasa lebih dari gembira karena akhirnya aku dapat mengemudi mobil sendiri.

Sejak aku adalah orang yang pertama dari teman temanku yang mendapatkan SIM, aku langsung menjadi sang supir saat kami pergi bersama.

Kami tau bahwa membawa orang yang berusia di bawah 20 tahun saat mengemudi tidak diperbolehkan untuk beberapa bulan pertama, tetapi kami semua sangat gembira saat tau salah satu dari kami akhirnya mendapat SIM, jadi semalam kami memutuskan untuk melanggar peraturan itu.

Aku menjemput beberapa temanku dan kami pun hang out ke sebuah mall untuk beberapa jam, kemudian kami pergi ke bioskop.

Setelah semua kegiatan itu usai, aku mengantar pulang mereka satu persatu ke rumah mereka masing masing dan mulai beranjak pulang.

Jendela mobilku terbuka, pemanas suhu masih menyala dan lagu favoritku diputar berulang ulang.

Aku merasa seperti sedang berada di atas segalanya.

Aku mendapatkan pesan singkat dari temanku yang memberitahu ku tentang begitu irinya dia karena aku telah mendapat SIM, sedangkan dia belum.

Aku mulai mengetik pesan balasanku, ketika entah darimana, seekor anjing berlari di depan mobilku.

Anjing itu mendengking sebelum aku menabraknya dengan mobilku.

Aku menginjak rem sekuat tenaga dan kuhentikan mobilku ditengah jalan.

Jantungku berdebar sangat kencang setelah kutabrak anjing itu.

Kupikir mungkin anjing itu akan baik baik saja, mungkin aku tidak mengenainya sekeras suara yang tadi terdengar.

Aku salah.
Aku telah melindasnya.
Roda mobilku telah merobek tubuhnya hingga terbelah dua.

Organ dalam yang terpisah dari kedua paruh badan berceceran ke jalanan.

Lututku mulai bergetar saat aku berlutut untuk mengecek kalung yang terpasang pada anjing itu.
Itu adalah anjing peliharaan tetanggaku.

Mereka tinggal sejauh 1 blok dari rumahku.

Diriku pun mulai tersedu sedu saat kukumpulkan kedua paruh jasad anjing itu dan membungkusnya dengan jaketku.

Aku menaruhnya ke dalam bagasiku dan pergi ke rumah tetanggaku.

Aku duduk di luar rumah tetanggaku dengan perasaan gelisah selama kira kira 1 jam lamanya.

Aku tau jika aku memberitau mereka apa yang telah terjadi, aku akan berada dalam masalah besar dan akan kehilangan SIM ku.

Aku tidak bisa melakukan itu.
Aku masih membutuhkan SIM ku.

Aku masih membutuhkan kebebasan baru ini.

Aku pun menaruh jaketku yang berisi jasad anjing itu di beranda rumah tetanggaku dan berlari kembali ke mobilku.

Aku tidak mempunyai garasi, jadi kuparkir mobilku di jalan di depan rumahku, dan berjalan balik ke pintu depan rumah mereka.

Kubunyikan bel pada rumah itu dan berlari kembali ke rumahku.

Aku dapat mendengar mereka berteriak dari 1 blok jauhnya.

Secepat saat aku pulang, aku langsung masuk ke kamarku dan meringkup diatas kasur.

Mungkin ini hanyalah sebuah mimpi buruk.
Mungkin disaat aku terbangun, semuanya akan baik baik saja.

Bel rumah ku berbunyi, diikuti teriakan ibuku, yang membangunkanku dari tidur pada pagi harinya.

Aku pun berlari ke lantai bawah dan melihat ibuku sedang berada di dekapan ayahku.

Ibuku berteriak dan menangis, itu adalah tangisan ibu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Pintu depan rumahku sedikit terbuka.

Ayahku mencoba untuk menahanku disaat aku melewati mereka untuk membuka pintu depan.

Disana, di beranda rumahku, dengan dua bagian yang terpisah, adalah adik perempuan ku.

Tetesan air mata mulai membasahi pipiku disaat ku berlutut di depannya.

Keadaanya terlihat sama seperti keadaan anjing itu.

Bekas terlindas mobil.

Terbelah menjadi dua.

Terbungkus di dalam jaketku.

Kerumunan warga mulai berkumpul pada saat itu.

Aku pun berdiri dan melihat tetanggaku dari 1 blok jauhnya berdiri disana dengan orang lain.

Dia pun melambaikan tangannya saat melihatku.

Dengan senyuman lebar di wajahnya.


Penulis: Sigit Putranto

Aku Juga Bisa Menjilat

Tags
Suatu hari seorang gadis remaja ditinggal oleh orang tuanya yang akan menginap di tempat saudara mereka. Sang gadis meyakinkan orang tuanya untuk berhenti khawatir kepadanya. Ia akan mengunci semua jendela dan pintu. Lagipula, gadis itu sendiri, ada anjing setianya yang menemaninya di kamarnya.

Malam itu, sang gadis hendak tidur. Ia mengunci semua pintu dan jendela. Namun ada sebuah jendela yang tak bisa ia kunci. Akhirnya ia hanya menutupnya begitu saja.

Gadis itupun naik ke atas ranjang dan di bawah ranjang, anjing setianya meringkuk.

Ia mengulurkan tangannya ke bawah dan anjingnya menjilati jari-jarinya, seperti yang biasa dilakukannya. Entah mengapa ia merasa aman jika anjingnya melakukan hal itu. Gadis itu jadi tidak merasa sendirian di kamar.

Gadis itu kemudian tertidur. Namun saat tengah malam, ia mendengar suara “Tip tap tip tap …”. Seperti suara air menetes di atas wastafel.

Saat ia membuka mata, kamarnya gelap gulita. Iapun menjulurkan tangannya ke bawah dan merasakan jari-jarinya dijilati.

Iapun kembali tidur.

Beberapa jam kemudian, ia kembali terbangun.

Suara “Tip tap tip” itu masih saja terdengar.

Ia menjulurkan tangannya ke bawah.

Jari-jarinya terasa hangat dan basah oleh jilatan.

Sang gadis lalu kembali tidur. Ia tak memikirkan suara itu lagi. Mungkin saja itu suara tetesan air di keran kamar mandinya.

Untuk ketiga kalinya, ia kembali terbangun oleh suara “Tip tap tip tap” itu.

Gadis itu menjulurkan tangannya kembali ke bawah.

Namun kali ini tak ada jilatan.

Gadis itu mengira anjingnya tertidur dan menyalakan lampu.

Namun anjingnya tak tampak di bawah ranjangnya.

“Tip tap tip tap”

Suara itu masih terdengar.

Gadis itupun memutuskan bangun dan memeriksa asal suara “Tip tap tip tap …” yang ia dengar. Rupanya suara itu berasal dari kamar mandi di sebelah kamarnya.

Iapun membuka pintu dan menyalakan lampu kamar mandi.

Segera ia menjerit.

Di dalam kamar mandi tampak anjingnya tergantung di atas wastafel. Lehernya digorok dan darahnya menetes di atas wastafel, menciptakan suara “Tip tap tip tap.”

Yang lebih mengerikan, di dinding terdapat kata-kata yang ditulis dengan darah anjingnya.

“AKU JUGA BISA MENJILAT.”

Oleh: Sigit Putranto

Sunday, 1 May 2016

Jalan Terbaik (Perpisahan)

Tags

Siang itu aku berlari dengan sekuat tenaga, aku berharap masih ada sedikit kesempatan untukku bisa bertemu lagi dengannya. Dia adalah Bintang, kekasih yang sangat aku sayangi selama ini. 3 tahun kami menjalani hubungan dari kelas 1 SMA sampai sekarang.

Aku tak tahu kenapa dia harus pergi, setiap aku inginkan sebuah alasan dari keputusannya ini dia selalu bungkam dan tak mengatakan sepatah katapun, setiap aku hubungi melalui ponsel tak pernah diresponnya  Tentu saja ini sangat menyakitkan, kau tau aku benar-benar menyayanginya, aku sungguh tidak mau dia pergi dari kehidupanku. Setidaknya jika ia ingin melanjutkan pendidikan di Universitas yang tempatnya jauh akupun masih bisa untuk melanjutkan kisah walau dengan jarak yang menyulitkan.

Di dalam perasaanku yang kacau aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih, sampai akhirnya saat aku ingat dengan sebuah buku yang Bintang hadiahkan kepadaku atas kelulusanku saat itu. Aku merasa ada yang aneh terhadap buku tersebut. Benar saja buku ini sama sekali bukan buku kesukaanku, aku sama sekali tidak suka dengan buku tentang kisah percintaan dan Bintang paling tahu soal itu. Kenapa? Apa maksud sebenarnya dari Bintang? Pertanyaan tersebut selalu menghantuiku.

Karena rasa penasaran yang sangat kuat akhirnya aku mulai menguak apa sebenarnya maksud dari pemberian buku ini. Semalaman aku menghabiskan waktu membaca buku pemberian Bintang dengan judul "Jalan Terbaik". Aku benar-benar dibawa larut oleh kisah yang tertulis di buku ini. Sampai tak sadar aku sudah tiba dihalaman terakhir. Yang ada dalam pikiranku semua kisah yang aku baca dibuku ini benar-benar mirip denganku namun jelas ini dibuat dari sudut pandang sang perempuan.

Aku masih belum bisa mengerti tentang maksud Bintang memberikan buku ini. Aku justru semakin penasaran kenapa semua latar, waktu dan alur cerita dalam buku ini semuanya hampir mirip dengan kisahku bersama Bintang. Walaupun ada yang sangat bertolak belakang dimana dibuku diceritakan bahwa si perempuan telah menjalin hubungan dengan pria lain dengan kata lain selingkuh. Oh, Jelas ini Bukan kisah kami, Bintang yang ku kenal adalah perempuan cuek yang memiliki kesetiaan sangat tinggi terhadapku, dia loyal dengan hubungan indah yang kami jalin selama ini.

 Kemudian setelah aku selesai membaca semua isi buku dan belum juga kutemukan jawaban akupun menutupnya dan sekilas kulihat nama pengarang dari buku ini. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa disana terpampang dengan jelas walaupun dengan ukuran agak kecil namun aku masih bisa membacanya " The Real Story Oleh Penulis : Bintang Indah Sari".

Hey apa-apaan ini, ini pasti bercanda. Dasar pengarang buku yang tidak punya nama kreatif. Bisanya hanya menjiplak nama orang lain haha... Tentu saja Bintang tidak akan seperti apa yang tertulis dibuku sialan ini. 

Aku masih berpikir positif sampai sebuah note kecil terselip di cover sampul buku ini. Seketika aku hancur lemas dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Di note itu tertulis kalimat "Jika kamu telah membacanya, berhentilah mencintaiku dan lupakan aku, sekarang kamu tahu aku bukan orang yang tepat berada disampingmu selamanya. Selamat tinggal"

Kemudian tanpa pikir panjang pagi aku langsung berlari menuju rumah Bintang untuk mendengar langsung penjelasannya. Namun tak ada seorangpun dirumah itu dan aku mencoba bertanya kepada tetangga disamping rumahnya, dan mereka bilang semalam Bintang diantar oleh orangtuanya telah berangkat ke stasiun untuk pergi menuju kota dimana dia akan melanjutkan pendidikannya. 

Aku masih terus berlari sekuat tenaga berharap bertemu dengannya sebentar saja. Tak peduli dia selingkuh atau apapun aku masih menyayanginya, dia adalah Bintang yang selalu aku kagumi pribadinya dan Bintang yang selalu menjadi semangatku mengejar impianku. Aku tidak mau dia pergi begitu saja, adalah tugas seorang lelaki untuk memaafkan semua kebohongan wanita.

Sampai tibalah aku di stasiun kereta api, setelah aku mencarinya dan bertanya kesana-kemari akhirnya Terimakasih Tuhan dia belum menaiki keretanya. Aku melihatnya duduk diruang tunggu, tetapi tunggu, siapa orang yang berada disampingnya? Tentu itu bukan ayahnya karena dia terlihat masih muda. Ah siapa peduli, akupun menghampirinya.

"Hey Bintang" aku memanggilnya dengan sedikit tersenyum agar dia tahu bahwa tak ada masalah denganku atas kebohongan yang dilakukannya. Tetapi dia hanya melihatku sesaat dan kemudian mengacuhkanku. Aku yang tak tahu kenapa karena tidak biasanya dia begitu, aku pun mendekatinya dan mencoba berbicara dengan menatap matanya.

"Bintang, kamu tidak perlu khawatir... Aku benar-benar baik-baik saja dan tak ada masalah dengan yang telah kamu lakukan, kalau kamu ingin pergi ke kota lain dan takut menjalani hubungan jarak jauh aku bisa menyusulmu kapanpun kamu inginkan, ayolah kita anggap semuanya tidak pernah terjadi apa-apa, ok"

Dan yang terjadi dia masih tetap bungkam dan hanya meneteskan air mata. Melihat hal tersebut pria yang disampingnya pun bereaksi dengan mendorongku.

"Hei bro, apa yang kamu lakukan dengan kekasihku!" gertak pria tersebut.

"Kekasih? Apa maksudmu! Bintang ini pacarku!" 

"Sudah cukup!!!" tiba-tiba Bintang yang sedari tadi diam pun membentak kami yang hampir saja melakukan perkelahian di tempat umum.

"Sebaiknya kamu pulang saja, hubungan kita sudah berakhir dan tidak mungkin kita bisa bersama lagi, aku sudah tidak punya rasa apapun kepadamu. Jadi pulanglah, biarkan aku pergi" teriak Bintang terhadapku.

Saat bersamaan kereta mulai bergerak dan waktu pemberangkatan telah tiba. Aku masih terdiam dengan tatapan kosong. Masih terdengar jelas ucapan Bintang barusan didalam kepalaku. Aku masih tidak percaya apa yang barusan terjadi. Saat kusadari dia telah menaiki keretanya dan segera berangkat, aku masih belum bisa merelakannya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku mohon Tuhan hentikan kereta itu dan biarkan Bintang turun. Aku masih ingin berbicara dengannya. Pintaku dalam hati. Namun memang sudah terlambat. Bintang pergi dengan kekasihnya meninggalkan aku disini.

Ya Tuhan, jadi seperti ini balasan untuk kasih sayang tulus yang telah aku berikan kepadanya? Baiklah! aku bersumpah, Jika memang ini jalan yang terbaik, demi Tuhan suatu saat nanti disaat orang yang dia pilih tersebut tak lebih baik dariku, meski dia datang lagi dan memohon aku tak akan pernah mau melihat wajahnya lagi.

< THE END >