Saturday, 30 April 2016

Tamu Yang Dinanti

Tags


Hari ini aku sedang menunggu seseorang, bukan.. Dia bukan seseorang yang spesial tetapi sesuatu yang akan dibawakan olehnya-lah yang sangat spesial untukku.

Beberapa hari yang lalu dia berjanji akan membantuku menyelesaikan masalahku, semoga dia menepati janjinya.

Oh iya kenalkan aku adalah seorang pria dengan ambisi tinggi dan aku akan melakukan apapun untuk mencapai tujuanku, aku hanya tinggal dirumah berdua dengan ibuku, salah satu ambisiku termasuk menjadi satu2nya ahli waris seluruh harta kekayaan orang tuaku, yah walaupun aku punya 4 saudara lagi.

Tok..tok.. Ada seseorang yang datang, mungkin orang yang ku tunggu sudah datang. Dan memang benar dialah pak anton mantan pacar ibuku saat masih muda dulu dan sampai sekarang pak anton masih blm bisa move on dari ibuku walau ibu sekarang tengah menderita gangguan jiwa.

Senang sekali rasanya melihatnya datang dan membawa sesuatu yang telah dijanjikannya tempo hari, sebuah kantong besar diberikan kepadaku, ku periksa isinya apakah benar sesuai pesananku.

Pak anton benar2 menepati janjinya, aku cek isi kantong yang diberikan oleh pak anton. 1 potong jempol dan bola mata ayahku dan 4 kepala adik2ku, kemudian aku membuat perapian untuk membakar potongan tubuh itu dan hanya ku sisakan jempol ayahku untuk ku ambil sidik jarinya sebagai tanda tangan bahwa ia setuju telah mewariskan seluruh hartanya hanya kepadaku dan bola matanya untuk ku simpan agar ia bisa menyaksikan bahwa hartanya jatuh ditangan orang yang tepat.

tapi tunggu masih ada 1 pesananku yang kurang, dimana pistol dengan peredam suara yang juga termasuk dalam pesananku? Gawat mungkin pak anton sudah tau tujuanku.

Bergegas aku menuju kamar ibuku namun ia sudah tidak ada disana, sial pak anton telah membawa kabur ibuku padahal aku masih membutuhkan isi kepala dan juga jantungnya untuk ku makan agar ibu bisa hidup dalam diriku dan menikmati harta suaminya dengan tubuh yang sehat dan otak yang waras.

Penulis: Sigit Putranto

Monday, 25 April 2016

Ambisi

Tags
Seorang manusia yang hidup di dunia ini tentulah harus memiliki tujuan dan impian yang dalam prakteknya membutuhkan kerja keras untuk dapat mencapainya, seperti halnya kisah berikut ini tentang sebuah mimpi seorang pemuda yang memiliki ambisi yang sangat kuat dalam dirinya.

Radja adalah seorang pemuda berusia 17 tahun yang masih duduk dibangku SMA, demi mewujudkan mimpinya menjadi jurnalis terbaik di dunia dia berusaha sangat keras belajar dan membaca untuk menambah wawasannya. Setiap hari waktunya dihabiskan diperpustakaan dan berselancar di internet. Karena ambisinya yang terlalu kuat terkadang dia justru menjadi semakin jauh dengan sahabatnya, ya Arman dan Rita.

Sedari kecil ketiga orang sahabat itu selalu bersama. Arman adalah orang yang sangat menyukai seni, sedangkan Rita dia memiliki bakat yang luar biasa didunia musik. Dua tahun yang lalu, saat itu setelah pengumuman kelulusan SMP mereka berkumpul dibawah pohon diatas sebuah bukit yang sering mereka jadikan tempat untuk berkumpul, mereka bertiga mengucapkan ikrar untuk sama-sama bekerja keras dalam mewujudkan mimpi.

"Baiklah teman-teman, kita telah lulus SMP itu artinya kita telah semakin dekat dengan mimpi kita" ucap Radja kepada kedua temannya. "Hah, jadi akan segera dimulai ya". Sahut Arman yang diikuti oleh senyuman manis dari Rita. Radja pun mengepalkan tangan kedepan dan diikuti oleh kedua sahabatnya. " Ya!! Mulai hari ini kita akan mengucapkan ikrar dan mengutarakan impian kita selama ini, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama dan berjuang mewujudkan mimpi kita". Seru Radja yang sangat terlihat beraemangat. "Tentu saja tak akan ada yang bisa memisahkan kita bertiga, kau tau itu" balas Arman. "Yah, aku juga ingin mendengar apa impian kalian" ucap Rita.

Mereka bertiga dengan mengepalkan tangan kedepan dibawah sebuah pohon besar dan tua yang mereka beri nama pohon perjanjian yang juga akan menjadi saksi bisu ikrar peraahabatan dan juga impian mereka. "Yaaa!!! Aku Radja Putranto berjanji akan menjadi seorang Jurnalis terbaik didunia, akan aku kabarkan peristiwa terbaru kepada semua orang, akan aku tunjukkan kepada dunia bahwa tak ada tempat sedikitpun dibumi ini yang akan lolos dari pemberitaanku!" dengan bersemangat Radja memulai ikrar mimpinya yang kemudian diikuti oleh Arman. "Baiklaaaaah! Aku juga tidak akan kalah. Akan kubuat dunia ini berwarna dengan keindahan karya-karya seniku, akan ku lampaui seniman-seniman legenda dan aku Araman Ibrahim berjanji akan menjadi Seniman Terbaik di seluruh jagad raya ini!" kemudian Rita pun tak mau ketinggalan. "Hihi kalian benar-benar bersemangat sekali. Yap aku pun demikian, disini dibawah pohon perjanjian dan didepan para sahabat terbaikku aku bersumpah akan meraih mimpiku menjadi musisi yang akan menghapus kesedihan orang-orang dengan musikku, aku akan menciptakan karya-karya yang akan selalu menyejukkan hati siapapun orang yang mendengarkan musikku, dan aku Nico Rita akan bekerja keras untuk mewujudkan itu semua!".

Dibawah pohon perjanjian yang menjadi teman mereka sejak dari kecil, Radja, Arman dan Rita pun mengutarakan impian mereka di masa depan. " Dan juga, apapun yang terjadi aku akan selalu menjaga kalian berdua meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya" Ucap Radja menutup ikrar mimpi ketiga sahabat tersebut.

Dan kini 2 tahun pun berlalu semenjak ikrar persahabatan dan impian mereka diutarakan. Radja, Arman dan Rita melanjutkan sekolah ke jenjang SLTA di sebuah SMA yang sama karena memang di desa tempat mereka tinggal hanya ada satu sekolahan tingkat SLTA. Radja tergabung dalam tim Mading sekolahan, sementara Rita membentuk sebuah band bersama teman-teman sekelasnya dan Arman, ya dia selalu sibuk dengan club grafity yang dia bentuk dengan teman-temannya dari luar sekolah.

Saat itu bel tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah berbunyi, lalu seperti biasa Radja akan menghampiri Rita dan Arman dikelasnya masing-masing, mereka bertiga memang berada dikelas yang berbeda. Saat itu dari jendela kaca ruang musik Radja dengan serius memperhatikan Rita yang dengan anggunnya tengah memainkan biolanya. Seakan terhipnotis Radja pun menatap keanggunan Rita disertai iringan dawai biola yang membuatnya sadar bahwa selama ini Rita sahabatnya itu memanglah yang tercantik dari semua gadis yang pernah ia temui. Namun tiba-tiba...

"Oiii Radja!!! Apa yang sedang kamu lakukan?''

Teriak seseorang sambil menepuk pundak Radja dan itu benar-benar membuatnya kaget dan segera tersadar dari lilitan pesona yang ditebarkan oleh Rita. Dan orang itu adalah Arman.

" Aaaargh, dasar bodoh! Kau mengagetkanku, bagaimana kalau jantungku lepas!" bentak Radja yang kesal karena ulah  Arman.

" hahaha tentu saja aku tau Orang sepertimu tidak akan mungkin mati dengan mudah, oiya dimana Rita? Ayok kita pulang" balas Arman.

"Ee iya itu Rita ee.. Dia masih di dalam kelas" jawab Radja yang sedikit gugup karena takut kalau Arman tau bahwa yang dilakukannya dari tadi adalah memperhatikan keanggunan Rita yang selama ini baru ia sadari.

"Rita!!! Teriak Arman memanggil dari balik jendela luar ruang musik. " Heh apa yang kamu lakukan! Dasar bodoh Rita sedang berlatih, sebaiknya kita tunggu saja sampai dia selesai dan jangan mengganggunya" ucap Radja pada Arman yang sedari tadi tidak sabar menunggu Rita untuk pulang bersama.

(Bersambung ke part selanjutnya)